
Pagi itu langit Jakarta sedikit berawan, cahaya matahari tertahan tipis di balik kabut polusi yang seperti biasa menyelimuti kota.
52Please respect copyright.PENANAvgasPQkkVf
Nadira duduk di depan cermin, merapikan blouse putih dan celana kulot hitam yang menjadi andalannya tiap kali ada meeting penting di kantornya. Hari ini, ia akan bertemu dengan seorang eksekutif dari Agra Group, perusahaan besar yang menjadi klien utama kantornya. Yang ia tahu orang itu adalah kepala divisi pengembangan bisnis yang baru ditunjuk beberapa bulan lalu di Agra Group.
52Please respect copyright.PENANAjm4qDRwHM6
52Please respect copyright.PENANAjhgWuCCjfQ
Ini akan menjadi pertemuan pertama mereka. Nadira sudah mendengar tentangnya, pria dengan latar belakang kuat di sektor investasi, pernah memimpin proyek regional di Asia Tenggara, dan dikenal sebagai negosiator ulung. Ia tidak merasa gugup, hanya lebih fokus dari biasanya. Ia ingin memberikan kesan profesional, seperti biasanya.
52Please respect copyright.PENANA8HJwH6QVSV
Ruang meeting lantai 21 telah disiapkan. Pukul 10 tepat, klien yang dinanti sudah tiba di kantornya. Perawakannya tinggi, berwibawa, berkemeja biru muda dengan jam tangan kulit hitam yang tampak mahal di pergelangan tangannya. Wajahnya tenang namun tajam. Saat Bu Ratih memperkenalkannya pada Nadira, mereka berjabat tangan.
52Please respect copyright.PENANAluZcNtyhmN
"Senang akhirnya bisa bertemu dengan Ibu Nadira. Saya sering dengar soal kerja Ibu dari tim kami. Katanya, kalau bukan Ibu yang pegang proyek ini, mereka nggak akan setenang itu tidur tiap malam," ujar Bima sambil tersenyum tipis.
52Please respect copyright.PENANAgUhZDaJoqQ
Orang itu bernama Bima Aryasatya. Usianya empat puluh, tapi penampilannya tenang dan terawat, memancarkan karisma pria dewasa yang tak banyak bicara namun sekalinya ia berbicara, semua orang diam. Nadira sempat membaca sekilas latar belakangnya dari berkas briefing yang dikirim tim internal pagi tadi. Lulusan INSEAD, salah satu sekolah bisnis terbaik di dunia, dengan pengalaman lebih dari lima belas tahun di sektor investasi dan pengembangan bisnis. Sebelum menjabat sebagai Kepala Divisi Pengembangan Bisnis di Agra Group, Bima pernah memimpin divisi ekspansi regional sebuah perusahaan venture capital ternama yang berbasis di Singapura.
52Please respect copyright.PENANAo7yH2chgoF
"Saya juga senang bisa bertemu langsung, Pak Bima. Semoga presentasi kami hari ini sesuai ekspektasi," jawab Nadira dengan senyum sopan.
52Please respect copyright.PENANAzXBCU6DaYq
Meeting dimulai. Nadira menjelaskan strategi restrukturisasi portofolio investasi Agra Group, menyertakan data riset dan analisis risiko yang ia dan timnya susun. Suaranya stabil, matanya menyapu ruangan, namun sesekali ia menangkap sorot mata Bima yang berbeda. Bukan pandangan kosong atau fokus semata, tapi ada ketertarikan atau rasa ingin tahu yang lebih personal. Tatapan itu membuatnya sedikit tidak nyaman, bukan karena gangguan, tapi karena ada sesuatu yang ia tidak biasa.
52Please respect copyright.PENANACv9amnIKWg
Ketika Nadira menjelaskan strategi "partnership ekuitas" pada salah satu startup pangan sehat, ia melihat Bima sedikit mencondongkan badan ke depan, tangannya menyatu membentuk segitiga, dan matanya menatap langsung padanya.
52Please respect copyright.PENANAVKTMJ3ybXy
"Saya suka pendekatan Anda soal mitigasi risiko melalui equity partnership. Tapi, apa Anda pikir startup itu bisa sustain dalam 24 bulan ke depan dengan model pertumbuhan seperti sekarang?"
Nadira mengangguk. "Kami sudah modeling skenario mereka dalam tiga proyeksi, Pak. Jika skenario pesimis terjadi, kami tetap bisa cover investasi melalui convertible note. Tapi kami siapkan exit plan yang solid. Saya bisa share dokumen detailnya nanti."
52Please respect copyright.PENANABxMxX9OngZ
Bima tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Nadira cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Baik. Nanti saya akan pelajari lebih lanjut. Tapi sejauh ini saya sangat menghargai kedalaman pendekatan tim Anda."
Meeting berjalan lancar hingga akhir, namun suasana antara Nadira dan Bima terasa mengandung sesuatu yang tidak disebutkan. Saat semua berdiri untuk menutup pertemuan, Bima sempat menghampirinya secara pribadi.
52Please respect copyright.PENANAvgSSj1kxTj
"Kalau ada follow-up, silakan hubungi saya langsung, ya. Email saya pribadi juga boleh. Kadang saya lebih cepat merespons dibanding jalur formal."
52Please respect copyright.PENANASF1A7xHA0V
"Baik, Pak. Terima kasih."
Saat ia berbalik, Nadira sempat melihat Bima masih menatap ke arahnya, sebelum akhirnya ia kembali ke arah lift.
52Please respect copyright.PENANA37GJ8MbEPp
Nadira kembali lagi ke rutinitas pekerjaannya, kepalanya dipenuhi dengan segala ide untuk Agra Group, sampai akhirnya ia sempat termenung di ruang kerjanya. Memang presentasi sudah selesai, feedback dari Bu Ratih sangat positif, bahkan Dimas sempat menyelipkan candaan bahwa Nadira bisa jadi CEO Agra berikutnya jika terus begini. Namun pikirannya tidak lepas dari pertemuan tadi. Tatapan mata Bima, caranya memperhatikan tiap penjelasan, ekspresi wajahnya saat Nadira memaparkan analisis.
52Please respect copyright.PENANAGp32YLK1mA
"Aneh," gumam Nadira pelan sambil menatap layar monitor yang kosong.
52Please respect copyright.PENANASzB5GdlT9x
Hingga hari berlalu, setelah makan malam sederhana dan mandi air hangat, Nadira merebahkan diri di atas kasurnya. Ia mengambil ponsel, membuka folder aplikasi di layar utama, dan mengetuk ikon aplikasi manhwa favoritnya.
Ia membuka salah satu seri berjudul "Shadow of the Director"—kisah tentang hubungan antara seorang wanita karier dan atasannya yang karismatik namun misterius. Ceritanya klise, tapi entah kenapa malam ini terasa relevan.
52Please respect copyright.PENANAYx3aPfi4K5
Tangannya berhenti saat membaca salah satu panel, "Dia tidak pernah mengatakan apapun, tapi sorot matanya selalu membuatku merasa... dilihat bukan hanya sebagai pekerja. Tapi sebagai seseorang."
Nadira mendesah, memeluk bantal kecil di sampingnya. Degup jantungnya terasa lebih cepat. Ia tidak tahu pasti kenapa.
52Please respect copyright.PENANAFIRTWYLac6
Ia menatap langit-langit sebentar, lalu tertawa pelan.
52Please respect copyright.PENANA87tdzWm6e2
***
52Please respect copyright.PENANASBaBTiY8CA
Keesokan harinya, keadaan Jakarta dimulai seperti biasa, langit biru keabu-abuan diselimuti awan tipis dan udara yang belum terlalu panas, tapi sudah penuh dengan hiruk pikuk kendaraan dan janji yang harus ditepati.
Nadira berjalan cepat dari halte MRT menuju gedung kantornya di bilangan Sudirman, mengenakan setelan abu lembut dan sepatu hitam yang mengilap.
52Please respect copyright.PENANAum48Qq9CFt
Ia tidur larut malam tadi, bukan karena pekerjaan, tapi karena pikirannya masih mengulang-ulang momen saat ia mempresentasikan strategi bersama timnya kepada Bima Aryasatya.
Tatapan pria itu terus membayang di benaknya, bahkan saat ia menyikat gigi tadi pagi.
52Please respect copyright.PENANABPEoT1cPm3
Ruangannya masih kosong saat ia masuk, hanya ada suara AC dan derik pintu lift yang kadang terbuka. Nadira menyalakan laptopnya, lalu membuka email. Dari sekian banyaknya email yang masuk tentang pekerjaan, ada satu email yang ia tidak sangka, dari orang itu.
52Please respect copyright.PENANAEFTGMorPah
Subject: Impressive Work
52Please respect copyright.PENANAhYYsQL7N06
Dear Nadira,
52Please respect copyright.PENANAyDZMUooVNM
Thank you for the detailed explanation during yesterday’s meeting. It was insightful and well-executed. Looking forward to our collaboration.
52Please respect copyright.PENANAXjNqRCMC2J
Regards,
Bima Aryasatya
52Please respect copyright.PENANAVA93XSZCBZ
Nadira sempat terpaku, ia sampai membaca ulang dua kali. Ringkas, sopan, tapi entah kenapa terasa sangat personal. Dia pun juga penasaran, bagaimana orang itu mengetahui emailnya, padahal mereka baru bertemu kemarin?
Dan lagi ia belum menghubungi orang itu sama sekali.
52Please respect copyright.PENANAu5WO4fUaBH
Ingatan Nadira kembali tentang orang itu, Bima tingginya sekitar 183 cm, tubuhnya tegap dengan dada bidang dan bahu lebar yang tersembunyi di balik setelan jas rapi. Rambutnya hitam dengan sedikit bercampur dengan warna putih, menandakan usianya yang sudah terlalu matang. Rambutnya disisir ke belakang, sedikit mulai menipis di bagian depan tapi justru menambah kharisma dewasanya. Kulitnya sawo matang, rahang tegas, dan matanya tajam tapi bukan mengintimidasi, lebih ke arah menghanyutkan. Kumis dan jenggot tipis selalu terawat rapi.
Suaranya berat, artikulasinya jelas, dan setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti sudah dipikirkan matang.
52Please respect copyright.PENANAdE88yakiTC
***
52Please respect copyright.PENANA7y5Tef4VsB
Perlahan suasana kantor mulai ramai. Dina dan Ario masuk hampir bersamaan.
52Please respect copyright.PENANAbhwipHBsHa
“Morning, bos Nadira,” sapa Dina sambil menaruh tumbler-nya di meja Nadira. “Gila sih, kamu kemarin nahan tatapan Pak Bima kayak gladiator.”
Ario ikut nimbrung. “Tatapan Pak Bima tuh bukan main. Kayak bisa baca isi otak lo langsung. Tapi lo tetap tenang. Respect.”
Nadira hanya tertawa kecil. “Namanya juga kerja. Masa mau gemetaran di depan klien.”
52Please respect copyright.PENANAt8NxKtt5zc
“Lo gak ngerasa dia agak beda ya?” bisik Dina, lalu duduk di kursi kerja yang bersebelahan. “Cara dia dengerin kamu, yang lain tuh kayak nggak dianggap.”
Nadira hanya menjawab dengan senyum.
52Please respect copyright.PENANAzufar2eE5x
Tak lama, Bu Ratih datang ke meja mereka, membawa dua map tebal dan wajah cerah yang jarang muncul di pagi hari.
52Please respect copyright.PENANAi9eHaCpdok
“Nadira,” sapanya, “...sebentar ke ruangan saya ya. Mau ngobrol sebentar.”
Di dalam ruangan yang didominasi warna krem dan aroma kayu manis dari lilin aromaterapi favorit Bu Ratih, Nadira duduk dengan punggung tegak.
52Please respect copyright.PENANAinmmomsAT4
“Kemarin kamu tampil bagus,” kata Bu Ratih sambil membuka map dan membalik halaman. “Saya barusan dapat kabar dari pihak Agra, khususnya dari Pak Bima langsung. Dia minta sampaikan ke tim, katanya presentasi kita kemarin sangat memuaskan.” Nadira mengangguk kecil. “Terima kasih, Bu. Itu juga karena kerja tim.”
52Please respect copyright.PENANAr7Z4n8T12T
“Iya, tapi kamu tetap pilar utamanya,” jawab Bu Ratih, sambil menatap Nadira penuh arti. “Oh ya, dia juga bilang katanya kapan-kapan mau ajak seluruh tim yang terlibat buat lunch bareng. Katanya biar bisa ngobrol lebih santai dan lebih akrab.”
Nadira terdiam sebentar. “Lunch bareng? Wah... itu ide yang menarik.” Bu Ratih menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Menarik, ya? Atau deg-degan?”
52Please respect copyright.PENANAQ8lvCEkLNv
Nadira tertawa kecil, lalu menggeleng. Rona pipinya sedikit berubah, sayangnya, itu tidak luput dari mata tajam atasannya.
52Please respect copyright.PENANAdeijgbhu6P
“Nadira, kamu tahu nggak sih,” ujar Bu Ratih pelan, “Pak Bima itu duda loh.”
Nadira terkesiap kecil, “Serius, Bu?”
52Please respect copyright.PENANAKm2WWUlsi4
“Serius. Saya tau dari teman saya yang kerja di Agra Group. Katanya istrinya meninggal dua tahun lalu, mereka nggak punya anak. Sekarang dia tinggal sendiri.”
“Wah, saya baru tau...”
52Please respect copyright.PENANA4LZe4CFnKd
“Tuh kan, menarik kan,” sela Dina tiba-tiba dari balik pintu yang ternyata terbuka sedikit membuatnya tidak sengaja mendengar obrolan ringan itu.
“Pak Bima duda, Dira jomblo. Dunia udah memberi sinyal. Tinggal kamu mau jawab sinyalnya atau enggak.”
52Please respect copyright.PENANAD26a8rCfg3
Dina Larasati, begitulah nama lengkapnya, tipikal wanita kantor yang fashionable tapi tetap fungsional. Tingginya sekitar 160 cm, tubuhnya mungil proporsional mirip-mirip Nadira, kulitnya putih dengan wajah oval dan pipi sedikit chubby yang justru membuatnya terlihat lebih muda dari usia sebenarnya. Rambutnya pendek sebahu, sering digerai dengan cat warna coklat tua atau burgundy yang menambah kesan dinamis.
Gaya berbusananya selalu up-to-date, blus satin, celana palazzo, atau rok midi dengan sepatu hak pendek. Dina termasuk tipe cewek yang ceplas-ceplos tapi tahu waktu. Dia care dengan Nadira, sering jadi tempat curhat, tapi juga tidak ragu mengomentari hal-hal sensitif kalau merasa itu penting. Tatapan matanya tajam kalau sedang kesal, tapi saat tersenyum, dia terlihat sangat bersahabat.
52Please respect copyright.PENANAuMCgHr7iwQ
Dan orang itu selalu bisa membuat suasana jadi riuh dengan candaan ringan.
52Please respect copyright.PENANA5vodBVdV19
Tapi kemudian Bu Ratih, dengan gaya khasnya yang penuh seloroh, menambahkan dengan tawa, “Saya aja kalau masih single perawan ting ting, pasti udah saya kejar tuh orang!”
Semua tertawa, termasuk Nadira. Tapi di balik tawanya, ada getaran pelan yang mulai menjalar di dalam dadanya.
52Please respect copyright.PENANAyd8Ivzaf6Z
Perkataan mereka terdengar lucu, tapi juga membuka pintu kecil dalam pikirannya—sebuah kemungkinan yang belum pernah ia izinkan masuk selama ini.
52Please respect copyright.PENANAN7ioyuofMg
***
52Please respect copyright.PENANATvtddzvLyl
Siang itu berlalu dengan berbagai meeting dan diskusi internal. Tapi sepanjang hari, Nadira merasa seperti ada kamera tak terlihat yang mengikutinya, merekam setiap desiran rasa yang tak biasanya ia rasakan. Ia berusaha fokus, tapi sekali-sekali pikirannya melayang kembali pada tatapan Bima kemarin—tajam tapi tidak menusuk, justru terasa menggoda.
52Please respect copyright.PENANA2LG0Gm2Q0d
Ia ingat betul momen saat ia menjelaskan bagian strategi, Bima tidak memotong, tidak menyela, hanya menatap dan itu cukup untuk membuat Nadira merasa seolah-olah ia sedang dikuliti di depan audiensi.
52Please respect copyright.PENANA5iAXHTSFlv
Setelah jam kerja, saat suasana kantor mulai longgar, Dina dan Nadira duduk berdua di pantry sambil meminum teh hangat.
52Please respect copyright.PENANAjnod4kIuNu
“Nad,” kata Dina pelan, “gue tahu lo nggak gampang jatuh hati. Tapi lo ngerasa sesuatu kan kemarin?”.
Nadira menoleh, sedikit kaget dengan pertanyaan itu yang terlalu tepat. “Meskipun baru pertama kali ketemu, lo gak ngerasa ada yang beda sama Pak Bima?”
52Please respect copyright.PENANAxMkO967xTx
Nadira terdiam cukup lama. Lalu ia menjawab lirih, “Tatapannya.”
“Tatapan?” tanya Dina lagi
52Please respect copyright.PENANAiNUls4ljP5
“Iya. Bukan tatapan yang menilai... tapi kayak menelanjangi, tapi tanpa bikin aku malu. Dia nggak berkata apa-apa, tapi matanya kayak bicara.”
Dina tersenyum. “Lo akhirnya ngerasain juga ya. Rasa kayak... ingin diterkam?”.
52Please respect copyright.PENANAQOFyIlMo6x
“Gila lo.” Nadira menatap temannya, lalu ikut tertawa ,tapi hatinya membenarkan, tatapan Bima memancing sesuatu dari dalam dirinya.
52Please respect copyright.PENANAlUVL749KGx
Malam itu, di dalam apartemennya yang tenang, Nadira menyelesaikan sisa laporan dengan cepat. Ia meletakkan laptop di meja samping, lalu menyalakan lampu kamar yang hangat. Di luar, Jakarta sudah beristirahat.
Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur, lalu mengambil ponselnya. Jempolnya meluncur otomatis membuka aplikasi manhwa.
52Please respect copyright.PENANAVDjhTLo8c6
Ia sama sekali tidak sempat membuka aplikasi hari ini, terkadang ia suka mencuri-curi waktu membaca manhwa pada saat jam makan siang ataupun jam pulang kantor saat ia harus lembur sedikit. Tapi kalau keadaannya memang tidak memungkinkan, biasanya sebelum tidur dia baru membaca manhwa. Bagi Nadira rutinitas kecilnya ini yang membuat dunia terasa lebih ringan.
52Please respect copyright.PENANAWsCRjf92p7
Dibalik segala kesibukannya sebagai perempuan karier yang tangguh, Nadira memiliki satu kebiasaan yang tak banyak diketahui orang. Di antara rapat-rapat klien, tumpukan email, dan tenggat waktu yang tak pernah mengenal ampun, ada saat-saat sunyi yang ia ciptakan sendiri. Biasanya larut malam, ketika kantor mulai sepi atau di dalam apartemennya yang sunyi, di situlah Nadira membuka layar laptop ataupun ponselnya, menyelami dunia yang berbeda dalam dunia komik manhwa.
52Please respect copyright.PENANA2JorGgPhq6
Awalnya hanya iseng, karna pertama kali ia mendengar manhwa itu dari aplikasi twitter. Dia tidak tahu apa itu awalnya, karna yang beberapa banyak orang membicarakan komik-komik manhwa yang menarik. Akhirnya ia mencari tahu dan mencoba membaca satu dua episode karena direkomendasikan oleh algoritma. Tapi sejak itu, seperti ada celah kecil dalam dirinya yang terbuka dan sulit ditutup kembali. Ia mulai menjelajahi berbagai genre. Romantis, drama, bahkan yang penuh fantasi dan absurditas. Seumur hidupnya, Nadira hanya pernah satu kali menjalin hubungan serius—saat kuliah. Itu pun berakhir tanpa luka, tapi juga tanpa kenangan membekas. Mereka hanya sebatas berpegangan tangan, berpelukan, dan sekali dua kali berciuman, selebihnya hanya cerita biasa. Namun saat membaca manhwa-manwha itu, ia menemukan sensasi yang berbeda. Ada desiran halus yang menjalar di bawah kulit. Sebuah keinginan akan kedekatan yang lebih ketika ia membayangkan jika dirinya adalah salah satu tokoh di cerita tersebut. Keintiman yang membuat waktu berhenti, membuat semua logika lenyap.
52Please respect copyright.PENANACc4t6bPiho
Ia menyadari, bukan sekadar visual atau alur ceritanya yang membuat ia ketagihan. Tapi karena manhwa-manwha itu menghadirkan fantasi tentang menjadi diri yang tak perlu terus mengontrol, tak perlu terus kuat, tak perlu terus menjadi "perempuan karier ideal". Nadira tahu betul, ia masih bisa mengendalikan pikirannya. Ia bukan seseorang yang akan mudah tenggelam dalam fantasi, apalagi mengubah khayalan menjadi tindakan sembarangan.
52Please respect copyright.PENANAQuslzquJKI
Tapi ada satu benang merah dari cerita-cerita yang paling ia sukai. Tokoh utamanya selalu seseorang yang tampak biasa—baik, alim, atau bahkan terlalu polos—namun menyimpan hasrat yang liar, menggelegak, menunggu momen untuk meledak.
Mungkin karena dirinya pun tak jauh berbeda. Tapi jauh di dalam dirinya, ada pertanyaan yang tak pernah ia jawab dengan jujur:
52Please respect copyright.PENANA22OHsy1qqh
"Bagaimana kalau suatu hari... ada seseorang yang berhasil membuka sisi liarku? Apa aku masih bisa kendalikan diriku sendiri?"
52Please respect copyright.PENANA536SHQjFle
Judul yang ia buka malam itu bukan yang biasa ia baca. Kali ini ia memilih dari salah satu yang ia bookmark: “Single Again: The CEO's Temptation”
52Please respect copyright.PENANAiJHY6pE2JT
Saat gambar tokoh pria di cerita itu muncul—badannya tinggi, ekspresinya dingin, dan penuh kendali—ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Pikirannya memutar ulang suara Bima, ekspresi tenangnya, serta aura tak terbaca yang mengitari pria itu. Nadira menggulung tubuhnya di bawah selimut, menatap layar ponselnya, lalu bergumam pelan,
52Please respect copyright.PENANA7WPMnV7kgc
“Hmm… kok aku jadi mikirin dia ya. Segitunya kah aku tertarik dengan orang itu?”
ns18.222.183.102da2