
Normalnya saat perempuan menikah, ia akan merasa bahagia. Karena pernikahan tak ubahnya seperti metamorfosis seorang perempuan, untuk menjadi lebih dewasa. Namun, berbeda dengan aku, yang menganggap pernikahanku sebagai nerakanya dunia.
757Please respect copyright.PENANAs80TQWthWM
Berlebihan? Tidak menurutku. Awalnya memang, alasanku terkesan kekanak-kanakan karena aku ingin pasangan yang setara. Bahkan aku sempat memandang pasangan yang baik itu dari segi fisik juga. Namun, setelah aku mengetahui lebih dalam buruknya calon pasanganku dan keluarganya. Aku jadi semakin membencinya. Apalagi yang aku rasakan tidak hanya kebencian mendalam, melainkan perasaan cemburu karena mamaku menjadi miliknya.
757Please respect copyright.PENANAwXMq98iOzn
Bukannya aku iri karena Mama yang menyokong Akbar untuk mendapatkan posisi CEO. Lebih dari itu, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Perasaan yang tak bisa aku jelaskan.
757Please respect copyright.PENANAKJJwh8HGrC
Disisi lain, aku merasa terjatuh sampai perasaanku menjadi lumpuh saat Mama memandangku sebagai musuh. Entah perasaan apa yang aku rasakan. Mengingat Akbar dan keluarganya, sama seperti aku mengingat Mama.
757Please respect copyright.PENANAWK4ZWQDLZX
Jantungku terasa diiris-iris, nafasku pun tersendat-sendat, sangat sesak. Dadaku ingin meledak, karena rasa nyeri yang seakan-akan timbul lenyap saat perasaan itu kembali terngiang di dalam memoriku.
757Please respect copyright.PENANAFqs9WRZUqR
Namun, apa yang aku mampu? Aku tak mampu lari dari kenyataan. Keinginan untuk menghilang, hanya menghasilkan luka yang tanpa bekas. Bahkan luka itu sama sekali tak menggores sampai darahku mengucur. Bukan berarti rasa sakit itu tak nyata. Nyata, hanya saja tak meninggalkan jejak.
757Please respect copyright.PENANAowFx2QXAuO
Berkali-kali kugeleng-gelengkan kepalaku. Aku tak boleh larut sampai aku menjadi rapuh. Karena sebentar lagi aku menikah. Yang kubutuhkan bukan lagi terjebak ke dalam lumpur hisap yang menggerogoti perasaanku. Namun, ketegaran... hanya itulah yang menjadikanku bisa menghadapi kenyataan di depanku.
757Please respect copyright.PENANAqsoEBrBtqk
Saat ini aku sedang duduk di kamarku, ditemani MUA dan pegawainya.
757Please respect copyright.PENANAKqNjtYA7Dg
"Cantik, Ci..."
757Please respect copyright.PENANAOgYBnyQ7rB
"Terima kasih," kataku dengan tersenyum.
757Please respect copyright.PENANAT05K6xhMnY
Sekarang aku memakai gaun putih lengan panjang, dengan stelan hijab dan cadar. Setelah wajahku selesei dirias, aku diiringi Papa, Mbok Darmi, Pak Salim, Pak Sukri dan Pak Dirman. Dengan gaun yang panjang aku berjalan menuju mobil menuju KUA.
757Please respect copyright.PENANAk14rCI6iKT
"Tenangin hatimu, Fa!" kata Papa di sampingku.
757Please respect copyright.PENANABy2UG5X0r7
Kuhela nafasku dalam, lalu kuembuskan nafas panjang. Meski Papa menenangkanku, namun perasaan cemas membuat jantungku semakin tak terkendali. Dengan sedikit menggigil, aku duduk di dalam mobil.
757Please respect copyright.PENANAJl7NEYHosi
"Kita udah sampai," kata Pak Sukri yang berada di depan. Menjadi sopir.
757Please respect copyright.PENANAWq1AP3M6YR
Mobil pun di parkirkan di depan pelataran KUA. Kuremas-remas telapak tanganku, yang kini mulai keluar keringat dingin. Tak hanya membasahi telapak tangan, tubuhku pun basah oleh keringat dingin dari cemas yang membayangiku.
757Please respect copyright.PENANAAfz1W7LEZE
Papa berada di sampingku, menggamit lenganku. Di dalam ruang KUA, sudah hadir banyak orang. Tak hanya orang perusahaan, namun juga orang-orang yang mengiringi Akbar.
757Please respect copyright.PENANAws1mXLdevh
Sekarang aku duduk di samping Akbar, di depan penghulu. Sedangkan Papa sebagai wali dan Pak Sukri dan Dirman sebagai saksi duduk di sampingku.
757Please respect copyright.PENANAn51BaWwg2s
Tubuhku benar-benar membeku, apalagi sekarang aku berada di samping Akbar. Bau harum yang menyentuh syaraf-syaraf hidungku bereaksi. Di dalam pikiranku bertebaran kata-kata ejekan, namun daya tarik maskulin Akbar meruntuhkan egoku yang telah lama kubangun.
757Please respect copyright.PENANAueNgzbCukx
Yang awalnya aku hanya menunduk, kuedarkan pandanganku. Kulihat Aldo, Doni, Riswan dan Aris. Ekspresi wajah mereka sendu. Lalu aku kembali menunduk dengan kueratkan jari-jariku pada kedua tanganku.
757Please respect copyright.PENANArwIKHJNB2N
Sesekali kuangkat wajahku, kulihat Mama duduk dengan wajah muram. Perasaan yang sejak tadi sudah mampu kuatasi, kini mulai menyeruak. Kegelisahan yang sudah tenggelam, mulai muncul kembali.
757Please respect copyright.PENANATrRRkeD1jj
Dari sorot mata Mama, terpancar kebencian yang mendalam. Berkali-kali, kucoba menenangkan hatiku. Saat aku menoleh ke arah Papa, Papa memberiku isyarat agar aku tetap kuat. 757Please respect copyright.PENANAT1iTp4REzM
757Please respect copyright.PENANAApCCoIlg0J
"Mari kita mulai! Udah siap?" tanya Pak Penghulu sambil menjabat tangan Akbar. Akbar pun mengangguk sebagai tanda ia sudah siap.
757Please respect copyright.PENANAvs98Djpz7A
Saat ijab qobul akan dimulai, Akbar melirikku dengan ujung matanya. Ada sorot mata aneh, tak seperti stigma yang aku bangun di dalam pikiranku. Melainkan pancaran dominasi yang menyeruak. Tubuhku berkali-kali menggigil yang membuatku benar-benar takut apa yang akan aku hadapi setelah ini.
757Please respect copyright.PENANAIARBHqCtVE
Sebelum ijab qobul dimulai, Penghulu meminta izin pada Papa sebagai wali untuk mewakilinya, Papa pun mengangguk tanda setuju. Ijab qobul pun dimulai, "Saya nikahkan, Akbar Nurul Huda bin Aziz Amirul Ghozi dengan Farisha Aisyah Putri binti Johan Mahendra Putra dengan mas kawin... yang sudah diwakilkan kepada saya dibayar tunai."
757Please respect copyright.PENANAkhajRmkiL4
"Saya terima nikahnya, Farisha Aisyah Putri binti Johan Mahendra Putra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," kata Akbar menyauti.
757Please respect copyright.PENANAWwozVcX6dl
"Gimana sah?" tanya Pak Penghulu.
757Please respect copyright.PENANADICJa8aMYR
"Sah!" Semua orang yang berada di dalam ruangan berteriak bersama-sama.
757Please respect copyright.PENANAVIwreGLlVi
Acara ijab qobul pun selesei, sekarang mobil pengantin melaju menuju villa. Dalam hati, aku bertanya-tanya. Bukankah ini villa Papa? Aku takut jika villa Papa pun juga akan menjadi milik Akbar atau pun keluarga Akbar.
757Please respect copyright.PENANAkEZdwfbjYN
Perjalanan menuju villa cukup jauh, dengan keringat dingin yang terus mengucur, kuremas-remas telapak tanganku. Apalagi sekarang aku harus duduk disamping orang yang aku benci. Yang saat ini justru menggodaku dengan aroma kejantanannya. Kusangkal berkali-kali agar aku tak tunduk ke dalam pelukannya. Meski insting primordialku berkata lain, karena feromon kejantanan yang mulai menggelitik cuping hidungku.
757Please respect copyright.PENANA7eWeTqnMhU
"Kita udah sampai," kata Pak Sukri.
757Please respect copyright.PENANANuof1i2v9s
Dengan laju yang lambat, Pak Sukri membawa masuk mobil ke dalam pelataran villa. Di dalam pikiranku, setelah ijab qobul akan diadakan pesta pernikahan secara adat atau pun modern. Namun bayanganku buyar seketika, saat aku masuk ke dalam villa.
757Please respect copyright.PENANAHNT5cx4I6g
"Apa ini?" kataku dalam hati.
757Please respect copyright.PENANAxEU2YwgKPH
Rasanya tawaku ingin meledak. Bagaimana tidak? Ini bukan pesta pernikahan yang sesuai ekspektasiku. Hanya sekedar walimatul ursy, dengan undangan yang duduk lesehan di atas karpet.
757Please respect copyright.PENANA1rK3tf1s8D
Kulirik Akbar yang berada di sampingku, dengan pandangan sinis penuh penghinaan. Sekarang bukan Akbar yang menang, melainkan aku.
757Please respect copyright.PENANAa7lFjAxEdu
*****
757Please respect copyright.PENANAzg4eWS37V2
Sekarang aku sudah berada di rumah. Kulihat Papa keluar dari kamarnya sedang menarik kopernya.
757Please respect copyright.PENANAcqRIaxN97a
"Papa harus pergi, Fa," kata Papa dengan tersenyum.
757Please respect copyright.PENANAW9KEmre1H3
Tak ada sedikit pun sendu yang tergurat di wajahnya. Kucoba menahan tangan Papa, "Pa..."
757Please respect copyright.PENANADXsPSO8dT7
"Papa ngerti... Kamu nggak perlu khawatir, Fa. Papa nggak sepenuhnya ninggalin kamu," kata Papa sambil melepas pegangan tanganku pada pergelangan tangan Papa.
757Please respect copyright.PENANABKQZciSu6O
Tangisku tak lagi bisa kubendung. Lalu Mbok Darmi mendekatiku, "Disini masih ada Mbok, Non."
757Please respect copyright.PENANApRy1yyKDG8
Kuhamburkan tubuhku untuk memeluk Mbok Darmi. Pelukan Mbok Darmi pada tubuhku, sedikit menenangkanku. Usapannya pada punggungku seakan memberi penghiburan padaku.
757Please respect copyright.PENANAqaINY3Pgbh
"Non, nggak sendiran," kata Mbok Darmi.
757Please respect copyright.PENANA18142BZW1L
Saat aku melepas pelukanku pada tubuh Mbok Darmi, kutegakkan tubuhku. Di kejauhan Pak Salim, Pak Sukri dan Pak Dirman berdiri seakan-akan mengatakan.
757Please respect copyright.PENANABOCiCBiP5I
"Cici nggak perlu takut. Kami siap melindungi, Cici."
757Please respect copyright.PENANAED613k9GBb
Kuhapus air mataku. Melihat kesetiaan mereka, aku terharu. Ada senyum yang tiba-tiba tersungging berbalut kesedihan yang kini padam.
757Please respect copyright.PENANAzSDrcj3LgK
Kucoba melihat di ujung sana, Akbar sedang memandangku dengan tatapan sinis. Aku tak tau, arti tatapan itu. Yang jelas, bulu kudukku bergidik. Rasa takutku pun mulai menyeruak.
757Please respect copyright.PENANA85e60v8KWu
******
757Please respect copyright.PENANARcRUHKgLeY
Setelah kepergian Papa, hatiku semakin rapuh. Ada yang hilang dari diriku. Bukan hanya kehilangan sosok seorang ayah yang menyayangiku. Namun lebih dari itu.
757Please respect copyright.PENANAZQ8GMKWIBX
Di dalam kamar aku duduk canggung di tepi ranjang.
757Please respect copyright.PENANAQR5LQq3npi
"Dek..." Akbar memanggilku.
757Please respect copyright.PENANAxEfkDbX6lM
"Iya..." Kataku sambil mengangkat wajahku yang tanpa cadar.
757Please respect copyright.PENANALiqZNfPako
Lalu Akbar duduk bersimpuh di depanku sambil memegang telapak tanganku. Saat Akbar menatapku, kubuang mukaku ke samping.
757Please respect copyright.PENANAWweSVIBAmX
"Maafkan aku dan keluargaku..." kata Akbar dengan suara baritonnya.
757Please respect copyright.PENANAA853yk5MbG
Kutatap Akbar yang sedang bersimpuh di depanku. "Buat apa?" tanyaku bergetar.
757Please respect copyright.PENANAUjOaHC7BQ2
"Aku sebenernya, nggak setuju dengan cara Abah," kata Akbar yang kini duduk di sampingku sambil menggenggam tanganku.
757Please respect copyright.PENANAzS5xk8zOxK
Kucoba menoleh ke samping, sambil menghela nafas dalam. "Tapi kenapa, Mas nggak menghentikannya?" tanyaku dengan suara bergetar.
757Please respect copyright.PENANAPaOG01B6G6
Akbar menatap langit-langit kamarku. "Aku bisa apa, Dek?" tanya Akbar.
757Please respect copyright.PENANA4Q6j1Bxsch
Kupandang Akbar, dengan penuh tanya. Senyum sinisnya, ekspresi dominannya dengan ucapan yang terlontar di mulutnya terasa saling bertentangan. Aku benar-benar tak mampu menembus hati orang yang sekarang berada di sampingku.
757Please respect copyright.PENANAUCvBlk9tUQ
"Kenapa begitu? Aku nggak ngerti, Mas," kataku menatapnya.
757Please respect copyright.PENANAfyrVuV5PyE
Pandangan Akbar berubah menjadi campuran kesedihan dan wajah murung.
757Please respect copyright.PENANAQijn8il4L6
"Terlalu sulit, buat mengatakannya, Dek..." kata Akbar.
757Please respect copyright.PENANAR1DAJ4Q41y
Kutatap Akbar yang berada di sampingku, dengan tatapan tak mengerti.
757Please respect copyright.PENANAY2SlingdW7
"Katakan saja, Mas!" kataku.
757Please respect copyright.PENANAvUtaYr1F75
"Seharusnya aku nggak menerima posisi CEO," kata Akbar dengan suara berat.
757Please respect copyright.PENANALKG19tx380
"Itu udah keputusan Mama, Mas," kataku.
757Please respect copyright.PENANAFE7NcC3jvo
"Kamu nggak cemburu kah?" tanya Akbar.
757Please respect copyright.PENANATHe7QDBQSJ
"Maksud Mas?" tanyaku.
757Please respect copyright.PENANAi4WDdXM7US
"Seharusnya posisi CEO, bukan aku yang pegang Fa. Aku juga merasa bersalah sama Om Johan," kata Akbar.
757Please respect copyright.PENANAZ8Q5WLwioj
"Nggak Mas, aku sama sekali nggak cemburu. Lagian aku nggak menginginkan posisi CEO," kataku.
757Please respect copyright.PENANAWa3aRiX5xe
"Bagaimana dengan Mama kamu, yang sekarang jadi istri abahku?" tanya Akbar.
757Please respect copyright.PENANAd5JHD9ePJa
Kuhela nafasku dalam lalu kuembuskan. "Jujur, aku sakit hati... Apakah utang budi harus dibayar sampai seperti ini?" tanyaku dengan emosi yang mulai meluap-luap.
757Please respect copyright.PENANAI4kHkFcHCp
Lalu Akbar berdiri, "Ini nggak sesederhana balas budi, Fa," kata Akbar dengan suara berat.
757Please respect copyright.PENANA0FsN8EuNCG
"Maksud Mas? Bilang ke aku, apa yang diinginkan keluarga, Mas?" tanyaku sambil ikut berdiri di belakang Akbar.
757Please respect copyright.PENANAtmMyVownJh
"Ini soal kekuasaan, soal politik. Saat perusahaan keluargamu berdiri disini. Ada banyak pihak yang dirugikan. Petani dan pesantren keluargaku," kata Akbar yang berubah intonasinya.
757Please respect copyright.PENANAI6TC3NnyxI
"Jadi yang dirugikan, petani miskin yang lahannya direbut?" tanyaku dengan tubuh yang mulai lemas.
757Please respect copyright.PENANAkll8tL3ynP
"Bukan. Semua lahan pertanian milik keluargaku. Dan beberapa kyai tuan tanah," kata Akbar.
757Please respect copyright.PENANAxppJvu1XJp
"Aku masih belum paham, Mas. Apa tujuan keluarga, Mas? Kenapa aku jadi korban? Mama jadi korban juga?" tanyaku.
757Please respect copyright.PENANAyRnS51tub3
Akbar kembali mengembuskan nafas panjang. "Awalnya pernikahanku sama kamu, sekedar simbolik agar aku lebih mudah menduduki posisi penting di perusahaan. Sebenarnya aku tak tertarik urusan bisnis, setelah aku bertemu kamu, pandanganku berubah," kata Akbar.
757Please respect copyright.PENANAYdRTIgJP5i
"Apa yang berubah?" tanyaku.
757Please respect copyright.PENANAQ3CYbJtLim
"Aku mulai jatuh cinta padamu, Dek. Tapi ada yang mengganjal di hatiku..." kata Akbar dengan suara berat.
757Please respect copyright.PENANAdooXjci6jh
Di dalam hati, aku tersenyum penuh kemenangan. Ternyata Akbar selemah ini. Ia tak peduli dengan kekuasan, namun ia hanya peduli denganku hanya karena perasaan cinta.
757Please respect copyright.PENANAAf1IWAR5xx
"Trus?" tanyaku.
757Please respect copyright.PENANAMcjnuuXY4u
Akbar berjalan ke arahku, lalu mengikatkan cadar tali ke kepalaku.
757Please respect copyright.PENANAzk7ZFoMWz1
"Sekarang kamu istriku... Kamu nggak boleh sembarangan menunjukkan wajahmu, meski itu ke pembantumu sendiri," kata Akbar.
757Please respect copyright.PENANAKDXXcf2FzK
Mendengar pernyataan Akbar tubuhku mulai membeku. Instingku mulai menyadari bahwa aku berada di dalam ancaman.
757Please respect copyright.PENANAKfLbIYePAv
Kuberanikan diri untuk memprotes. "Bukankah boleh, membuka aurat di depan asisten?" tanyaku.
757Please respect copyright.PENANAPBJLUrkbhd
"Ya, tapi nggak buat aku..."
757Please respect copyright.PENANA0yCDOLgGJ0
"Deg," perasaanku berubah menjadi getir. Ingin rasanya membantah atau sekedar protes karena ketidaksetujuanku. Namun, mulutku terasa terkunci di depan Akbar yang mulai mendominasiku.
757Please respect copyright.PENANAIcrAXWHL5F
"Aku mencintaimu, Dek. Sejak pertamakali kita bertemu," kata Akbar sambil berlutut memegang tanganku.
757Please respect copyright.PENANArUQj2SQCmm
Cinta? Tak ada cinta yang mendominasi. Bahkan aku pun tak merasakan cinta sama sekali. Yang aku rasakan hanya perangkap yang menjebakku. Jangankan untuk protes, mengucapkan satu kata pun, mulutku terkunci.
757Please respect copyright.PENANAYe3KvlHW6f
Ingin rasanya memberanikan diriku, hanya sekedar mengucapkan, aku bukanlah objek yang bebas untuk dikuasai. Aku adalah subjek, yang memiliki hati dan pikiran. Yang tak satu pun, orang yang berhak mengurungku ke dalam penjara. Namun kata-kata itu tetap tertahan tanpa bisa terucap di bibirku.
757Please respect copyright.PENANAbLbNv5Dp9m
"Jangan pernah buka cadarmu, untuk siapa pun!" kata Akbar yang mulai mengintimidasi.
757Please respect copyright.PENANAB4oIkUF6ap
Kucoba memberanikan diri untuk bicara, "Bahkan dengan mahromku sendiri seperti Papa?" tanyaku.
757Please respect copyright.PENANAOjKoMEMwgu
"Ya..."
757Please respect copyright.PENANAJkCQJjXlh2
Air mataku pun tak mampu kubendung. Karena beban yang aku tanggung mulai menyeruak menembus pertahananku.
757Please respect copyright.PENANA9pLXG1Um4C
"Kenapa Mas perlakukan aku kayak gini?" tanyaku dengan terisak-isak.
757Please respect copyright.PENANAU17VL9aKs9
"Ini demi kebaikanmu, Dek..."
757Please respect copyright.PENANAJ9br0rfJCy
"Mas possesif. Mas cuma memandangku seperti benda yang tak punya hati," kataku mulai meledak.
757Please respect copyright.PENANAurIfH9PGyb
Kulihat Akbar tersenyum sinis, "Kamu salah paham, Dek..."
757Please respect copyright.PENANA2X8DhypBs3
"Lalu apa arti semua ini, Mas?" tanyaku dengan suara meninggi.
757Please respect copyright.PENANAxlBu0l7Syb
"Kita baru saja menikah, Dek. Aku nggak mau di hari pertama pernikahan kita, diawali dengan pertengkaran," kata Akbar yang berdiri dengan ekspresi dingin di depanku.
757Please respect copyright.PENANAdOpeUeu3HS
Karena emosi yang tak tertahankan, kubuka cadarku lalu hijabku. Akbar yang awalnya meresponku dingin, kini berubah raut wajahnya. Tatapannya menyiratkan ketidaksukaan yang mendalam.
757Please respect copyright.PENANAjRleB4R1vx
"Aku suami kamu, Dek. Nggak seharusnya kamu kayak gitu," kata Akbar yang kini duduk di sampingku sambil menghapus air mataku.
757Please respect copyright.PENANA0OBFiwOHjm
Tangisku masih terisak-isak. Tangan kasar Akbar yang menyentuh pipiku justru mengintimidasiku.
757Please respect copyright.PENANANlexaO5XuC
"Tapi, Mas memperlakukanku kayak barang, Mas. Yang nggak punya perasaan," kataku dengan suara meninggi.
757Please respect copyright.PENANAGAMHgPKew3
"Hahaha, kamu emang beda sama perempuan lain, Fa. Tapi bukan berarti kamu bebas tanpa aturan kayak sekarang," kata Akbar yang mulai menyindirku.
757Please respect copyright.PENANA7JCEN8kEAi
"Tanpa aturan? Mas pikir aku cuma perempuan liar yang nggak terdidik?" tanyaku.
757Please respect copyright.PENANAHFlxpKQROt
"Semua perempuan sama saja, Fa. Tawanan bagi suaminya, termasuk kamu," kata Akbar yang mendekatkan wajahnya ke wajahku. Lalu kubuang mukaku karena perasaan jengah.
757Please respect copyright.PENANASxxMehTSVj
Aku pun berdiri untuk melarikan diri dari kamar karena aku tak sanggup menahan perasaan yang semakin pedih.
757Please respect copyright.PENANASYc9JTk6eu
"Kamu mau kemana, Fa?" tanya Akbar dengan nada kasar sambil memegang pergelangan tanganku.
757Please respect copyright.PENANAbVW4AjELyQ
"Lepasin aku, Mas!" kataku sambil berusaha melepas tanganku dari pegangan tangan Akbar.
757Please respect copyright.PENANAkUMXioPdyU
"Kamu nggak bisa seenaknya gitu, Fa. Kamu udah menjadi istriku!" kata Akbar dengan suara keras.
757Please respect copyright.PENANATn2T6CpZY6
Tubuhnya yang tinggi besar memanggulku lalu merebahkanku ke atas ranjang. Kucoba memberontak, dengan kakiku yang menendang-nendang. Namun, tenagaku tak berarti apa-apa dibandingkan dengan tenaga Akbar yang besar.
757Please respect copyright.PENANAPVUTktuc1F
"Kalo kamu masih nggak mau nurut sama aku, aku bisa lebih kejam daripada ini," kata Akbar sambil mengikat tangan kakiku.
757Please respect copyright.PENANAOd1Mp2JOWi
Kini Akbar berada di atasku sedang menindihku dengan seringai yang membuatku takut.
757Please respect copyright.PENANAVDJtVKs6De
"Kamu cuma milikku, Fa," kata Akbar yang mencoba mengecup bibirku. Namun kubuang mukaku dengan tangis terisak.
757Please respect copyright.PENANAaxMe7JUQz2
Kulihat perangai Akbar berubah, bukan lagi Akbar yang persuasif. Wajahnya mendengus kesal, sampai wajahnya yang putih berubah menjadi merah padam.
757Please respect copyright.PENANAdDcKBJGNFc
Plak!
757Please respect copyright.PENANARGqFpYmowm
"Mas.. apa salahku?" tanyaku sambil terisak.
757Please respect copyright.PENANAj1QPcxsW9w
"Kamu masih tanya apa kesalahanmu?" tanya Akbar dengan sorot mata mengerikan.
757Please respect copyright.PENANA4outfjyp6j
Plak!
757Please respect copyright.PENANAI3USRZPcPW
"Sakit, Mas!" kataku mengaduh.
757Please respect copyright.PENANAQMlfAlQVki
"Sakit? Kamu bilang tamparan tadi sakit?" tanya Akbar sambil menggeram marah.
757Please respect copyright.PENANAT2eBaCaFy3
"Kamu jahat, Mas," kataku sambil terisak.
757Please respect copyright.PENANAfoa8rS3SYg
"Hahaha, kamu bilang aku jahat?" tanya Akbar mendengus.
757Please respect copyright.PENANAiSSIb7QTy6
"Aku istrimu, Mas," kataku terisak-isak.
757Please respect copyright.PENANAjXXvHJyo49
"Istri macam apa yang nggak mau nurut sama suaminya?" tanya Akbar terlihat gusar.
757Please respect copyright.PENANAJxEnkHKD9P
"Apakah ini yang Mas maksud dengan cinta? hiks hiks."
757Please respect copyright.PENANAxvHoUaIlNX
"Ya..." kata Akbar sambil menangkupkan tangannya ke pipiku.
757Please respect copyright.PENANAsAUfUknvr7
"Em... sa... kit Mas," kataku mengaduh lagi.
757Please respect copyright.PENANAIHUoGLeyCO
"Sakit? Lebih sakit mana sama apa yang aku rasain, Fa?" tanya Akbar yang awalnya gusar menjadi rapuh.
757Please respect copyright.PENANANe3W7MCnlk
Ia menangis tersedu-sedu lalu memeluk tubuhku yang sekarang terlentang di atas ranjang.
757Please respect copyright.PENANASYpKDJrszW
"Kamu tau, kenapa hatiku sangat sakit?" tanya Akbar dengan tangis yang meledak.
757Please respect copyright.PENANAysiKW7uevS
Aku tak menjawab pertanyaannya, hanya memandangnya tak mengerti.
757Please respect copyright.PENANAQvh1KSqvd4
"Aku melihatmu di villa, Fa. Aku melihat semuanya," kata Akbar mulai rapuh.
757Please respect copyright.PENANA4KcC3tNFep
Ada titik terang yang mulai aku pahami.
757Please respect copyright.PENANAroE0R70bnN
"Jadi itu masalahnya?" tanyaku dengan tersenyum sinis.
757Please respect copyright.PENANAxmJKd3FIdu
"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Fa?" tanya Akbar.
757Please respect copyright.PENANAEhUfiMbSLs
"Kamu sakit hati? Sakit nggak kalo istrimu bukan milikmu saja?" tanyaku.
757Please respect copyright.PENANADF8U0jHZg7
Akbar yang tadi terlihat rapuh, kini menggeram penuh amarah.
757Please respect copyright.PENANAzCErFh8zxU
Plak! Plak!
757Please respect copyright.PENANA9pDfe13rUu
"Pelacur!" kata Akbar penuh amarah.
757Please respect copyright.PENANARkgxqPxwaI
"Hahaha, aku emang pelacur. Kenapa? Ceraikan aku sekarang, kalo kamu nggak terima, Mas!" kataku dengan mendengus kesal.
757Please respect copyright.PENANAfU92anp5kj
Kemarahan Akbar kembali meredup. Sekarang wajahnya yang merah padam terlihat rapuh.
757Please respect copyright.PENANAsCOXeK2r3C
"Aku nggak bisa, Fa," kata Akbar murung.
757Please respect copyright.PENANAdvCIyAfar7
"Kenapa? Kamu takut melepas posisi CEOmu?" tanyaku sinis.
757Please respect copyright.PENANAtAAK9hLfJl
"Bukan. Aku terlanjur mencintaimu, Fa," kata Akbar yang kini duduk menunduk di tepi ranjang.
757Please respect copyright.PENANAQiPtGS2CKo
"Hahaha, apa yang kamu tau soal cinta, Bar? Kalo kamu memperlakukan istrimu sendiri kayak gini?"
757Please respect copyright.PENANAxaKbcNMKfk
Akbar kembali menindihku, lalu menamparku berkali-kali.
757Please respect copyright.PENANAYY1aDEGGot
Plak! Plak! Plak!
757Please respect copyright.PENANARxyXz5sGMy
"Kamu perempuan nggak tau adab," kata Akbar sambil menangkupkan tangannya di pipiku.
757Please respect copyright.PENANAKiJrtfzrm2
"Emm... sakit... lepasin!"
757Please respect copyright.PENANALlJYeJPIwZ
"Sakit ya?" tanya Akbar dengan senyum mengerikan.
757Please respect copyright.PENANAYfEmVbGwWN
Lalu Akbar kembali terisak, "Hatiku lebih sakit, Fa. Ngeliat kamu digilir dewan direksi." Lalu wajah Akbar yang terisak menjadi datar. "Aku juga melihat papamu, menyentuhmu," kata Akbar sambil meremas dadaku dengan kasar.
757Please respect copyright.PENANAkUxlBs5nif
Tubuhku menggeliat ke kiri dan ke kanan, mencoba untuk memberontak. Namun percuma saja, remasan tangan Akbar semakin kasar. Sampai Akbar menarik dressku dengan paksa.
757Please respect copyright.PENANAlYLxXT72HO
"Ini dada istriku yang diremas mertuaku sendiri," kata Akbar dengan terisak sambil menatap dadaku yang masih berbalut bra berwarna hitam.
757Please respect copyright.PENANA0mHCLlic5o
Akbar menangis lagi. Air matanya sampai menetes jatuh ke atas dadaku yang masih tertutup bra.
757Please respect copyright.PENANAZtb4RHeAGf
"Sakit ya?" tanyaku dengan sinis.
757Please respect copyright.PENANAwIBiCiiIoe
Lalu Akbar menatap mataku dengan sorot mata yang menusuk.
757Please respect copyright.PENANAdqm2fbnmD4
"Kamu suka melihatku sakit hati?" tanya Akbar sambil mengusap air matanya.
757Please respect copyright.PENANAf12alOGqBj
"Ya.." kataku sambil tersenyum penuh kemenangan.
757Please respect copyright.PENANAGY0WFPwhuK
"Aku nggak akan pernah membiarkanmu disentuh sama laki-laki lain lagi, Fa." Akbar mulai mendengus lagi. "Aku benci sama papamu."
757Please respect copyright.PENANArVgXNDtsyM
"Dia lebih baik daripada kamu!" kataku sambil menatapnya sinis.
757Please respect copyright.PENANAnN53qmHuKb
"Kamu gila, Fa..." kata Akbar.
757Please respect copyright.PENANAyQRCRLRdSL
"Kamu yang lebih gila, karena memperlakukan istrimu kayak gini," kataku.
757Please respect copyright.PENANAkQ1JmFaFib
"Itu pantas buat kamu, Fa. Karena aku suami kamu," kata Akbar.
757Please respect copyright.PENANANlPLogRfUu
"Hahaha, sekarang siapa yang gila?" tanyaku sinis.
757Please respect copyright.PENANA93M6ASjhJW
Akbar tak meresponku. Dengan tatapan acuh, Akbar meninggalkanku pergi dalam kondisi tangan dan kaki terikat.
757Please respect copyright.PENANAvMEChlQn4v
"Akbar! Lepasin! Lepasin aku!" kataku berteriak.
757Please respect copyright.PENANAyTDjGgddQd
757Please respect copyright.PENANAMv3UYUCNaP