“Emosi, kata yang paling sering muncul dari gue setiap kali ngeliat dia.”
—Yudha
ಬ಼ಬ಼ಬ಼
610Please respect copyright.PENANAhD1AD8JO7f
Dua menit berlalu, tatapan miring masih Yudha lempar ke arah Ivy. Merasa tak nyaman perhatikan seperti itu, ivy melempar baju ganti ke arah Yudha. Lalu menyibukkan diri dengan membersihkan sampah makanan yang masih tergeletak di meja samping tempat tidur.
Yudha terhenyak. Kedua tangannya terkepal. Ia masih cukup sabar sampai detik ini. Maniknya melirik sekilas pada Ivy–yang sibuk memasukkan sampah kulit buah pada plastik–sebelum memungut kasar baju yang tergeletak di pangkuannya.
“Gak sopan banget sih lo,” gerutu Yudha sembari turun dari kasurnya lalu berjalan menuju kamar mandi.
Sebelah alis ivy menukik mendengar gerutuan dari Yudha. Diliriknya sekilas tubuh berbalut baju pasien itu. “Egois, minta dihargain tapi gak mau menghargai orang.”
Kakinya berjalan beberapa langkah lalu duduk di sofa panjang. Dipencetnya remot ke arah layar TV, mengganti stasiunnya secara acak. Tak ada yang bagus. Ivy memang sedang tidak ingin nonton TV. Hanya saja kamar ini terasa sepi.
Ada banyak hal yang memenuhi pikiran gadis itu. Termasuk perbincangan di kantin rumah sakit pagi tadi.
“Ivy, ini kamu baca baik-baik kalau sudah di rumah. Dan ini, tolong kamu suruh Yudha untuk mengganti baju dan memakan bubur lalu minum obatnnya.”
Ivy yang tengah lahap menyantap bubur ayam terpaksa berhenti menyuapkan sendok. Tangan kanannya menerima sebuah amplop. Dilihatnya sekilas, lalu menerima paper bag yang berisi barang milik Yudha.
“Nah, ini uang milikmu yang kamu gunakan untuk membayar biaya rumah sakit semalam. Terima kasih ya, nak. Dan ini ada pakaian ganti, semoga pas di tubuhmu. Oke saya titip Yudha, nanti pasti saya kembali,” jelasnya cepat sambil memberikan amplop dan paper bag lain yang ditujukan untuk Ivy lalu bergegas pergi setelahnya.
Ivy menghela napas lelah. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan amplop itu. Tapi, lebih baik ia membacanya di rumah sesuai dengan pesan yang Tuan Prayata berikan.
Gadis itu memijat pelan tengkuknya yang pegal. Sejujurnya bukan cuma leher saja, tapi seluruh tubuhnya juga sangat pegal. Mengingat sejak kemarin sampai di Jakarta, ia belum sempat merebahkan tubuh sama sekali.
Perlahan matanya terpejam, namun ia masih terjaga. Tangan kanannya meraba ke samping mencari bantal sofa untuk dipeluknya. Namun keinginannya untuk tidur memeluk bantal putih itu sirna, saat suara bariton menginterupsi pergerakannya.
“Ngapain lo masih di sini?” Kedua tangan Yudha sibuk menggosok handuk pada rambutnya.
Tarikan napas pertama. Ivy membenarkan posisi duduk. Melirik ke arah Yudha yang jelas menunjukkkan kekesalan lewat nada bicaranya barusan.
“Tuh, makan bubur lo. Habis itu diminum obatnya,” titah Ivy sambil menunjuk nampan yang sudah komplit dengan mangkuk, air, dan obat yang harus Yudha habiskan.
Kaki dengan celana training hitam itu mendekat ke arah Ivy. Ia meraih remot, lalu mematikan TV. Tangannya kembali menggosok rambut sambil melempar tatapan sekilas.
“Kalo, ada orang nanya tuh jawab dulu,” Protes Yudha sambil berjalan ke meja, menyambangi semangkuk bubur yang dibawa untuknya.
“Bukan, urusan lo.”
Yudha mengurungkan niat untuk meraih mangkuk. Emosinya kembali meluap mendengar jawaban itu. Ia berbalik badan, memandang geram pada punggung mungil yang berdiri di dekat pintu.
“Ya, jelas urusan gue lah. Karena lo masih di kamar rawat gue. Dan satu hal, lo suka banget ya bikin orang naik darah?”
“Gue di sini karena papa lo yang minta tolong.” Ivy menoleh sebentar lalu keluar meninggalakan Yudha sendiri. Menyisakan berentet pertanyaan di kepalanya.
ಬ಼ಬ಼ಬ಼
610Please respect copyright.PENANAGpQrER7I0t
Di luar kamar, Ivy berpapasan dengan Tuan Prayata yang hendak menemui putranya. Gadis itu menahan langkah di depan pintu, saat pria paruh baya itu mengajaknya bicara.
“Ivy, sekarang waktunya kamu istirahat. Di luar Pak Fu'an sedang menunggumu. Ia akan mengantarmu ke rumah. Dan nanti saat di rumah, Bi Sari akan menunjukkan kamar mu. Semoga kamu betah ya, Nak." Ia tersenyum lalu beranjak masuk ke kamar.
“Jalani hidup ini dangan sebaik-baiknya Ivy. Karena inilah kehidupan yang Allah berikan untukmu.”
Ivy menghembuskan napas pelan, membenarkan letak tas selempangnya, lalu berjalan di sepanjang koridor rumah sakit.
Diwaktu yang sama di tempat berbeda. Seorang pria menggeram, rencana yang sudah disusun gagal, hanya karena kecerobohan antek-anteknya.
“Ah, kalian tidak becus,” amuk seorang pria di ruangannya sendiri.
610Please respect copyright.PENANAYqwD4FWN0N
“Maaf, kami akan berusaha mencarinya.”
“Saya, minta maaf. Karena sayalah gadis itu kabur,” Sambung Dimas yang masih memakai jaket coklatnya.
“Baiklah, selagi gadis itu tidak bertemu anak Boss. Itu tak masalah. Jika kalian bertemu gadis itu, lakukan apa yang kemarin malam tertunda. Kalian mengerti!”
“Ya Pak Tian, saya mengerti,” jawab Dimas dan Farel kompak.
“Ini untuk kalian.”
“Terima kasih pak, kami permisi.” Farel mengambil amplop pemberian Tian, lalu beranjak keluar dari ruangan bersama Dimas.
“Semoga gadis itu masih di Jakarta.”
Tian menghela napas kasar. Pria itu merogoh kantong celana dan melihat nama penelpon di ponselnya. Ia membenarkan posisi duduk, menegakkan punggung dan menetralkan emosi sebelum mengangkat telpon.
“Halo pak.”
“Bagaimana, apa semuanya sudah beres?” tanya seorang pria di sebrang telpon.
“Iya, semuanya sudah beres pak.” Jelas Tian harus berbohong jika tak ingin bisnisnya hancur.
“Bagus, terima kasih atas kerja samanya.”
“Sama-sama Pak.”
'KLIK'
Sambungan telpon terputus. Pria ini terus saja menghela napas dengan kasar. Ia meyakinkan diri dan berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja, karena tak mungkin gadis 15 tahun itu kembali ke daerah asalnya di Surabaya. Tapi, tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi nantinya.
ಬ಼ಬ಼ಬ಼
Yudha sudah di izinkan pulang oleh dokter sejak pukul 8 pagi. Saat ini ia berada di ruang keluarga, berbaring di permadani lembut sambil menonton film.
610Please respect copyright.PENANAodeBdsVwWc
“Yudha, mama dan papa akan tetap pergi ke Paris hari ini.” Anne duduk di samping anaknya seraya menyodorkan sesuatu. Yudha mengalihkan pandangan dari layar televisi.
“Waah... puding coklat. Ini buat Yudha?”
Tak perlu menunggu ibunya mengangguk, pemuda itu langsung duduk dan meraih sendok. Mata Yudha berbinar, dengan senang hati ia melahap camilan kesukaannya itu. Nyonya Prayata menggeleng, bibirnya tersenyum lebar melihat kelakuan putranya yang sama persis seperti bocah tiga tahun.
Pria yang sejak tadi duduk di sofa sambil membaca koran ikut bergabung bersama istri dan putranya. Ia datang dengan menekuk wajah sebal.
“Ma, untuk papa mana?” protesnya sambil menengadahkan kedua tangan.
“Papa, buat saja sendiri.”
Sang istri mengalihkan pandangan, pura-pura terfokus pada film yang putranya tonton. Sungguh ia tak kuasa menahan tawa jika terus melihat wajah konyol suaminya.
Nyonya dan Tuan Prayata itu masih saja berdebat masalah puding. Beginilah mereka jika sedang bersantai, hanya akan ada percakapan-percakapan tak penting di sana. Sementara suami-istri itu berdebat, si pewaris tunggal yang sedang menyantap puding coklatnya terheran karena ada sesuatu yang berbeda.
“Susunya berasa amis, apa ini pake susu sapi ya?Ah, gak mungkin mama nyampurin susu sapi ke puding ini.”
Yudha kembali menikmati puding coklatnya. Jarang-jarang Ibunya sempat membuatkan cemilan ini untuknya. Mungkin karena itu pula puding ini terasa begitu lezat, walau seperti ada rasa lain di lidahnya.
“Yudha, nanti sekitar jam dua belas siang papa dan mama akan berangkat ke bandara. Kamu di rumah baik-baik ya,” pesan sang papa pada Yudha.
“Ya Pa,” angguknya dengan pandangan ke layar televisi.
“Yudha—”
Pemilik nama memejamkan mata sejenak. Ia jelas tahu akan kemana arah topik perbincangan ayahnya. Yudha sungguh bosan membahas hal ini. Sudah cukup ia diceramahi habis-habisan oleh ibunya sepanjang perjalan ke rumah.
“Ya pa, aku gak akan minum lagi. Maaf.” Jujur saja ia enggang membicarakan hal itu saat ini.
“Eh, padahal aku ingin membahas hal lain,” batin Tuan Prayata.
“Ah, sepertinya kamu lagi sibuk sama film mu. Ya sudah, kalau begitu papa ke atas dulu mau siap-siap.”
“Mama juga mau siap-siap dulu ” Sejenak ia menatap sayang dan mengusap lembut kepala sang anak sebelum beranjak dari ruang keluarga.
Pemuda berwajah blasteran itu melirik punggung wanita yang dicintainya. Terdiam, memikirkan banyak hal hingga meninggalkan film yang ditontonnya.
“Ah, mama sama papa itu kenapa? Gue udah biasa ditinggal ke luar negeri. Tapi gak pernah khawatir begini. Apa gara-gara kejadian semalam?”
“Ah ya, kejadian semalam. Awas aja lo bertiga. Berkat tantangan konyol itu, gue mabuk dan hampir nyium cewek itu. Gimana kalo cewek yang gue jadiin target bukan cewek baik. Mungkin, hari ini bakal ada cewek yang ngaku-ngaku tidur sama gue.”
Membanyangkannya saja sudah membuat kepala Yudha pusing. Ia tak tahu akan seperti apa reaksi orang tuanya jika hal itu sampai terjadi. Ditambah keadaan semalam memang berpotensi jadi bukti.
Alkohol. Pulang kelewat hari. Nyium cewek pula. Ingin rasanya ia memukul tiga orang binal yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri. Diraihnya ponsel hitam yang tergeletak di meja. Membuka semua pesan yang sejak kemarin malam belum sempat dibaca.
15 PESAN BELUM DIBACA
KEMARIN
Dana mengubah 4 cogan menjadi 4 gembel610Please respect copyright.PENANALoqp3EeVUs
610Please respect copyright.PENANAJ05prLOdBj
610Please respect copyright.PENANA20XKn8FT79
610Please respect copyright.PENANA1o7oIBcslc
610Please respect copyright.PENANAtRbaw62Oj4
Rama : Apaan sih? kita gembel? 😒 @Dana610Please respect copyright.PENANAcGxhz7zaso
610Please respect copyright.PENANAMP6k3b5GzI
16.04
Fatir : Dana gembel apa nih?610Please respect copyright.PENANAEWo5OKpNhI
610Please respect copyright.PENANAOW85peeOtc
16.07
610Please respect copyright.PENANAnPAT3sfFm6
Rama : Woi, kutu aer ke mana lo? 😕610Please respect copyright.PENANA3IVc2aSWia
610Please respect copyright.PENANA1p6ndYHvqn
16.44
Fatir : Auah... :(610Please respect copyright.PENANA8LHTkQfmXI
610Please respect copyright.PENANAVDE5gKzoGg
16.47
Dana : Ah, emang lo paling ngerti deh @fatir. Gembel cinta @rama @fatir.610Please respect copyright.PENANAwsXVwYJwgQ
610Please respect copyright.PENANAzfhJONCLSj
18.57
Dana : Kapan nih cuss ke hotel?610Please respect copyright.PENANAV00rBUrcFB
610Please respect copyright.PENANAH7EsNtuIs3
19.00
Rama : Ye, itu mah lo sama Yudha yang gembel cinta.😞 610Please respect copyright.PENANABfc0bLh0kS
610Please respect copyright.PENANAMt9Wt70Q4p
19.02610Please respect copyright.PENANAqKqDJ7v0ZQ
610Please respect copyright.PENANAtz77MFHutI
610Please respect copyright.PENANAdHwKGFAp6p
610Please respect copyright.PENANAHmWV8WceOY
610Please respect copyright.PENANABwLvkijJbL
Fatir : Lupakan @rama. Kalo gue sih on time @Dana.610Please respect copyright.PENANAHXgDj0aROE
610Please respect copyright.PENANAOorvLgb5qF
19.04
Rama : Gue mah ikut, aja soalnya numpang. Ye gak😎 @fatir610Please respect copyright.PENANA9ylnU9O63y
610Please respect copyright.PENANA7ubtccoHMW
19.04
Dana : @yudha lo kapan, jangan ngaret ya👌610Please respect copyright.PENANAkkQl9Nrl4s
610Please respect copyright.PENANAaI7LdRnuJX
19.05
HARI INI
Fatir : Yudha lo di mana sih? udah nyampe rumah belom610Please respect copyright.PENANAyESMJTCsoy
610Please respect copyright.PENANAhg0f0TIvcz
00.34
Dana : Yud, lo tidur di mana? 😑610Please respect copyright.PENANA6XeZu1rQGr
610Please respect copyright.PENANAUberMMPGop
00.38
Rama : Gue, sama yang lain kudu bilang apa, ama bonyok lo?610Please respect copyright.PENANAwhW6bcq3ZQ
610Please respect copyright.PENANAfIuNS25bt0
00.40
Dana : Yudha... nongol kek bocah 💢610Please respect copyright.PENANA3iKliYMuLT
610Please respect copyright.PENANA65crZnlVuN
00.55
Fatir : Kabarin kita semua ya kalo lo baik-baik aja610Please respect copyright.PENANAzxikChKIK6
610Please respect copyright.PENANAPcAcW7nycE
00.59
Lo semua dateng ya ke rumah gue jam 3 sore610Please respect copyright.PENANAHTnWDQwPW6
610Please respect copyright.PENANA2hBxp7eB3K
11.44
Dana : Yudha, lo masih idup ternyata 😢610Please respect copyright.PENANAaMj5TD12L9
610Please respect copyright.PENANA5OPleuJoJG
11.45
Rama : Yudha, lo baik-baik aja kan. Semalem lotidur di mana?610Please respect copyright.PENANAU0a5InTxdE
610Please respect copyright.PENANAkPARsFmIJA
11.45
Gue baik610Please respect copyright.PENANA2obPUmnEmO
610Please respect copyright.PENANA1lDiM4OgMv
11.47
Fatir : Bagus kalo lo baik-baik aja. Oke kita semua bakalandateng.610Please respect copyright.PENANAyuzIiFAE09
610Please respect copyright.PENANAW0p9QnzDov
11.47
Yudha menghempaskan handphonenya, ia kembali fokus dengan film yang sedang tayang. Yudha memang lebih suka menonton film di rumah ketimbang di bioskop. Karena di sini ia bebas mau melakukan apapun sambil menonton filmnya.
ಬ಼ಬ಼ಬ಼
Seorang wanita paruh baya sedang duduk di depan cermin rias, ia sedang bersiap untuk perjalanannya ke Paris siang ini bersama sang suami.
“Pa, apa keputusan papa apa sudah tepat masalah anak 15 tahun itu?”
Tangan Anne sibuk menorehkan garis-garis coklat di alis kanannya. Hanya butuh sedikit sentuhan di bibir dan pipi maka pekerjaannya sebentar lagi selesai.
Tuan Prayata tak langsung menjawab. Ia sedikit berpikir. “Ya, papa yakin. Karena dia bukan gadis biasa layaknya anak remaja seusianya.”
Tuan Prayata merebahkan tubuhnya yang belum istirahat sejak semalam. Ia memandang langit-langit kamar. Kedua tangan ia lipat di bawah kepala.
“Walau umurnya masih terbilang muda, ia sudah bisa berpikir dewasa. Dia baik, sopan, mandiri, dan yang terpenting dia taat sama agama,” imbuhnya.
“Mengapa papa begitu yakin dengan gadis itu?” Nampaknya sanh istri memang tidak setuju dengan keputusan suaminya ini.
Memangnya apa yang bisa dilakukan gadis yang bahkan umurnya di bawah umur Yudha. Wanita ini tau persisi seperti apa kelakuan putranya. Sangat tak mungkin gadis itu mampu mengatur putranya.
“Terakhir gadis itu menyelamatkan Yudha. Dengan mengendarai motor Yudha dan membonceng Yudha ke rumah sakit. Jika dia mau, bisa saja saat itu dia hanya membawa motor Yudha dan meninggalkan Yudha tergeletak di jalan, tapi dia gak melakukannya.”
“Lalu, bagimana dengan Yudha? Apa dia sudah tau tentang ini? Apa dia sudah setuju dengan adanya gadis itu di sini?”
Anne beranjak dari meja rias dan berjalan menuju tepi ranjang. Ia belum selesai berdandan. Tapi topik pembicaraan ini menyita perhatiaannya.
“Yudha harus menerimanya. Baik ia setuju atau tidak setuju,” tegas pria itu.
Nyonya Prayata hanya menghela napas. Jika sudah seperti ini, tak akan ada yang bisa merubah keputusan suaminya sebagai kepala keluarga di rumah.
“Ya mama yakin denga keputusan Papa," ucap sang istri seraya melempar senyum.
610Please respect copyright.PENANAafSkkuc9Sm
Tuan Prayata bangkit dari tidurnya. “Aku akan menemui gadis itu, memberi tahu perihal keberangkatan kita ke Paris.” Setelah mengucapkannya ia berlalu dari hadapan sang istri.
“Semoga gadis itu membawa perubahan yang positif untuk Yudha,” batin Anne.
Bersambung...610Please respect copyright.PENANAUq1YQ5btr6
610Please respect copyright.PENANAfD1ifCLRz7