Suara dari Loteng
Desa Lebak Gading terkenal akan rumah panggung tua di ujung hutan bambu. Rumah itu sudah puluhan tahun kosong, tapi warga sekitar masih sering melihat lampu menyala sendiri atau mendengar suara tangisan dari dalamnya. Konon, rumah itu dulunya milik seorang penari ronggeng yang meninggal secara tragis di malam pertunjukan terakhirnya.
Suatu malam, Dika, seorang mahasiswa jurusan arsitektur, datang ke desa itu untuk penelitian tugas akhirnya tentang rumah-rumah adat. Ia memutuskan tinggal sementara di rumah panggung tua itu, meski sudah diperingatkan oleh warga desa.
"Kalau malam, jangan naik ke loteng ya, Nak. Kadang dia suka nangis di sana," kata Pak Lurah, sambil melirik rumah itu dengan tatapan ngeri.
Dika hanya tersenyum kecil. Ia tak percaya hal-hal mistis. Tapi malam pertama, ia mendengar suara gamelan dari atas loteng. Pelan, lirih... seperti dari dunia lain.
Bayangan di Cermin
Hari-hari berlalu, Dika mulai merasa tak sendirian. Cermin di ruang tamu sering memantulkan sosok perempuan berbaju putih, meski saat ia menoleh, tak ada siapa-siapa. Bau melati sering tercium tiba-tiba, dan tiap malam, suara tangisan itu makin jelas.
Suatu malam, Dika naik ke loteng. Ia menemukan kotak kayu berisi selendang merah dan foto seorang perempuan muda yang tersenyum lebar. Di balik foto itu tertulis: "Untukmu, yang pernah menjanjikan pelaminan."
Ketika Dika berbalik, dia melihatnya. Perempuan itu. Berdiri di ujung loteng, rambut panjang menutupi wajah, menangis sambil memeluk selendangnya.
"Kau sudah kembali..." katanya dengan suara gemetar penuh rindu dan dendam.
Selendang Berdarah
Dika terdiam, tubuhnya kaku seperti ditusuk hawa dingin yang keluar dari sosok perempuan itu. Ia mencoba mundur, tapi langkahnya terasa berat, seolah lantai loteng menolaknya pergi. Perempuan itu mengangkat wajahnya perlahan, dan untuk pertama kalinya, Dika melihat mata yang dipenuhi luka dan amarah.
Tiba-tiba, selendang merah itu melayang ke arah Dika, mendarat tepat di tangannya. Selendang itu basah... dan berdarah.
Keesokan harinya, Dika terbangun di ranjang tanpa mengingat bagaimana ia bisa kembali ke kamar. Tapi di sudut meja, selendang merah itu masih ada. Dan darahnya belum mengering.
Kuburan di Belakang Rumah
Penasaran dan mulai ketakutan, Dika mencari informasi tentang perempuan dalam foto itu. Ia menemukan seorang nenek tua, mantan penari senior desa yang masih hidup.
"Dia... namanya Sekar. Penari terbaik desa ini. Tapi cintanya dikhianati oleh lelaki dari kota. Malam sebelum pernikahan, lelaki itu kabur. Sekar menari sendirian malam itu... lalu gantung diri di loteng rumahnya. Sejak itu, dia menunggu di sana. Menunggu kekasihnya kembali," ucap sang nenek lirih.
Dengan jantung berdebar, Dika memutuskan pergi ke belakang rumah. Di bawah pohon beringin tua, ia menemukan batu nisan kecil tanpa nama. Tanahnya basah. Seolah baru saja digali.
Dan di samping nisan itu, selendang merahnya tergeletak lagi.
Cermin Kedua
Malam kelima, Dika merasa dirinya mulai berubah. Ia bermimpi aneh—menari di panggung tua dengan penonton tak berkepala. Dalam mimpi itu, Sekar menuntunnya, tangannya dingin, matanya kosong, tetapi senyumnya penuh kerinduan.
Saat terbangun, Dika melihat cermin kamar memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Di belakang pantulan tubuhnya, ada meja rias yang tak pernah ada di rumah itu sebelumnya. Di atas meja itu, ada cermin kecil—cermin kedua.
Ketika Dika menatap cermin itu, wajahnya bukan lagi dirinya. Tapi wajah pria lain... pria dari masa lalu, berpakaian zaman kolonial. Dan Sekar berdiri di sampingnya, memegang tangannya erat.
Lelaki yang Kembali
Nenek tua itu kembali menemui Dika. Wajahnya pucat.
"Kau... bukan hanya mirip. Kau itu reinkarnasi kekasih Sekar. Arwahnya tahu. Dan dia tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Dika mulai kehilangan kesadaran. Suara gamelan kini terdengar bahkan di siang hari. Setiap malam, selendang merah itu muncul di berbagai tempat—di dapur, di kamar mandi, di balik bantal. Sekar semakin sering muncul. Kadang hanya bayangan, kadang hadir utuh di samping ranjangnya.
Ia tak bisa keluar dari rumah itu lagi. Pintu selalu terkunci. Jendela tak bisa dibuka. Warga desa pun mulai menjauh.
Rumah itu kini bukan sekadar tempat tinggal. Tapi panggung terakhir bagi sebuah pertunjukan kematian yang belum selesai.
17Please respect copyright.PENANAIQiWIYovVo